Bentuk batang, arah tumbuh, permukaan, dan modifikasi batang

Batang merupakan bagian tumbuhan yang sangat penting bagi pertumbuhan dan perkembangan dan dapat dikatakan sebagai sumbu tumbuhan.

Sifat-sifat batang antara lain adalah sebagai berikut :

  1. Berbentuk panjang bulat seperti silinder atau dapat pula berbentuk lain, tetapi selalu bersifat aktinomorf.
  2. Terdiri atas ruas-ruas yang masing-masing dibatasi oleh buku-buku dan tiap buku-buku terdapat daun.
  3. Tumbuhnya ke atas menuju cahay ( bersifat fototrop atau heliotrop ).
  4. Bertambah panjang di ujung.
  5. Mengadakan percabangan, dan selama hidupnya tumbuhan tidak digugurkan, kecuali cabang atau ranting yang kecil.
  6. Tidak berwarna hijau, kecuali pada tumbuhan yang umurnya pendek.

 

 

Fungsi batang bagi tumbuhan, yaitu untuk :

  1. Mendukung bagian-bagian tumbuhan yang ada di atas tanah.
  2. Memperluas asimilasi dan menempatkan bagian-bagian tumbuhan di dalam ruang, sehingga dari segi kepentingan tumbuhan bagian-bagian tadi terdapat dalam posisi yang paling menguntungkan.
  3. Jalan pengangkutan air dan zat-zat makanan dari bawah ke atas dan jalan pengankutan hasil asimilasi dari atas ke bawah.
  4. Tempat penimbunan zat-zat makanan cadangan.

Berdasarkan tampak tidak batang pada suatu tanaman, maka tumbuhan dapat dibedakan menjadi tumbuhan yang tidak berbatang (planta acaulis) dan tumbuhan yang berbatang jelas. Pada tumbuhan yang berbatang jelas dapat dibedakan atas :

  1. Batang basah (herbaceus)
  2. Batang berkayu (lignosus)
  3. Batang rumput (calmus)
  4. Batang mendong (calamus)

Macam-macam bentuk batang :

  1. Bulat (teres)
  2. Bersegi (angularis): bersegi tiga (tringularis) dan bersegi empat (quadrangularis).
  3. Pipih: filokladia (phyllocladium) dan kladodia (cladodium).

Dilihat dari permukaannya batang tumbuh-tumbuhan juga memperlihatkan sifat yang bermacam-macam, seperti :

  1. Licin (laevis)                       
  2. Berusuk (costatus)              
  3. Beralur (sulcatus)
  4. Bersayap (alatus)
  5. Berambut (pilosus)
  6. Berduri (spinosus)
  7. Memperlihatkan bekas-bekas daun

 

  1. Memperlihatkan bekas-bekas daun penumpu
  2. Memperlihatkan banyak lentisel
  3. Keadaan-keadaan lain, misalnya lepasnya kerak

Arah tumbuh batang pada tumbuhan dibedakan atas 8 macam, yaitu :

  1. Tegak lurus (erectus)
  2. Menggantung (dependens, pendulus)
  3. Berbaring (humifusus)
  4. Menjalar atau merayap (repens)
  5. Serong ke atas atau condong (ascendens)
  6. Mengangguk (nutans)
  7. Memanjat (scadens)
  8. Membelit (volubilis)

–    Membelit ke kiri (sinistrorsum volubilis)

–    Membelit ke kanan (dextrorsum volubilis)

Percabangan pada batang umumnya dibedakan 3 macam cara percabangan, yaitu :

  1. Percabangan monopodial
  2. Percabangan simpodial
  3. Percabangan dikotom atau menggarpu

Cabang-cabang pada suatu tumbuhan biasanya membentuk sudut yang tertentu dengan batang pokoknya. Dilihat dari besar kecilnya sudut ini, maka arah tumbuh cabang pada suatu tanaman berlainan. Umumhya orang membedakan arah tumbuh cabang adalah sebagai berikut :

  1. Tegak (fastigiatus)
  2. Condong ke atas (patens)
  3. Mendatar (horizontalis)
  4. Terkulai (declinatus)
  5. Bargantung (pendulus)

PRAKTIKUM I

 

Topik               : Daun Tunggal dan Bagian-Bagiannya

Tujuan             : Mengenal bagian-bagian daun dan ciri-ciri daun tunggal.

Hari/ tanggal   : Kamis/ 21 Febuari 2013

Tempat            : Laboratorium Biologi PMIPA FKIP UNLAM Banjarmasin

 

I.           ALAT DAN BAHAN

Alat:

  1. Baki/nampan                        3. Loupe
  2. Alat tulis

Bahan :

  1. Daun Bambu (Bambusa sp)
  2. Daun Tebu (Saccharum officinarum L.)
  3. Daun Pisang (Musa paradisiaca L.)
  4. Daun Jarak (Ricinus communis L.)
  5. Daun Widelia (Widelia sp)
  6. Daun Keladi (Colocasia sp)
  7. Daun Mangga (Mangifera indica L.)

 II.        CARA KERJA

  1. Menyiapkan alat dan bahan.
  2. Mengamati bagian-bagian daun : tangkai (petiolus), pelepah (vagina), helaian (lamina), lidah-lidah (ligula).
  3. Mengamati bangun daun : lanset, bulat telur, bulat telur terbalik, perisai, garis/pita, dsb.
  4. Mengamati ujung daun : runcing, meruncing, tumpul, membulat, rompang/rata, berbelah, berduri.
  5. Mengamati pangkal daun : runcing, meruncing, tumpul, membulat, rompang/rata, berlekuk.
  6. Mengamati tepi daun : rata, bergigi, bergerigi, bergerigi ganda, beringgit, berombak, berlekuk, bercangap, berbagi.
  7. Mengamati daging daun : tipis seperti selaput, tipis lunak seperti kertas, seperti perkamen, seperti kulit, berdaging.
  8. Mengamati pertulangan daun : menyirip, menjari, melengkung, sejajar.
  9. Mengamati permukaan atas dan bawah daun : gundul, licin (mengkilap, suram, berselaput lilin), kasap, berkerut, berbinggul-binggul, berbulu (jarang, halus dan rapat, kasar).
  10. Mengamati warna daun permukaan atas dan bawah.
  11. Menggambar hasil pengamatan

 III.     TEORI DASAR

Daun merupakan bagian dari tumbuhan yang paling penting dan umumnya tiap tumbuhan mempunyai sejumlah besar daun. Alat ini hanya terdapat pada batang, bagian batang tempat duduknya atau melekatnya daun dinamakan buku-buku (nodus) batang, dan tempat di atas daun yang merupakan sudut antara batang dan daun dinamakan ketiak daun (axilla). Daun biasanya tipis melebar, kaya akan suatu zat warna hijau yang dinamakan klorofil. Daun berfungsi sebagai alat untuk:

  1. Pengambilan zat-zat makanan (resorbsi)
  2. Pengolahan zat-zat makanan (asimilasi)
  3. Penguapan air (transpirasi)
  4. Pernapasan (respirasi)
  1. Bagian-bagian daun

Daun lengkap terdiri atas tiga bagian, yaitu:

  1. Upih daun atau pelepah daun (vagina)
  2. Tangkai daun (petiolus)
  3. Helaian daun (lamina)
  4. Bangun/ bentuk daun (Circumscription)

Berdasarkan letak daun yang tersebar maka daun dibedakan empat golongan, yaitu :

  1. 1.      Bagian yang terlebarnya kira-kira di tengah-tengah helaian daun.

Tumbuhan yang memiliki daun yang terlebarnya terletak di tengah-tengah helaian daun kemungkinan bangun daunnya adalah bulat atau bundar (orbicularis), bangun perisai (peltatus), jorong (opalis atau ellipticu), memanjang (oblongus) dan bangun lanset (lanceolatus).

  1. 2.      Bagian terlebar di bawah tengah-tengah helaian daun

Daun-daun yang mempunyai bagian yang terlebar di bawah tengah-tengah helaian daunnya dibedakan dalam dua golongan, yaitu :

  1. a.      Pangkal daunnya tidak bertoreh.

Dalam golongan ini didapati bentuk-bentuk daun seperti : bangun bulat telur (ovatus), bangun segitiga (triangularis), bangun delta (deltoideus), dan bangun belah ketupat (rhomboideus).

  1. b.      Pangkal daun bertoreh atau berlekuk.

Dalam golongan ini termasuk bentuk-bentuk daun seperti : bangun jantung (cordatus), bangun ginjal atau kerinjal (reniformis), bangun anak panah (sagittatus), bangun tombak (hastatus), dan bangun bertelinga (auriculatus).

  1. 3.          Bagian yang terlebar terdapat di atas tengah-tengah helaian daun

Daun dengan bagian terlebar terdapat di tengah-tengah helaian daun kemungkinan bangun daunnya adalah bulat telur sungsang (abovatus), bangun jantung sungsang (obcordatus), bangun segitiga terbalik atau bangun pasak (cuneatus) dan bangun sudip atau spatel atau solet (spathulatus).

  1. 4.          Tidak ada bagian terlebar atau dari pangkal  ke ujung dapat dikatakan sama lebarnya.

Dalam golongan ini termasuk daun-daun tumbuhan yang biasanya sempit, atau lebarnya jauh berbeda jika dibandingkan dengan panjangnya daun. Pada umumnya bentuk daun yang dari pangkal ke ujung sama lebarnya adalah bangun garis (linearis), bangun pita (ligulatus), bangun pedang (ensiformis), bangun paku atau dabus (subulatus) dan bangun jarum (acerosus).

  1. Ujung daun (Afex folli) dan pangkal daun (basis folli)

Ujung dan pangkal daun memperlihatkan bentuk yang beraneka rupa. Ada tujuh bentuk ujung daun yang sering kita jumpai yaitu runcing (acutus), meruncing (acuminatus), tumpul (obtusus), membulat (rotundatus), rompang (truncatus), terbelah (retusus), dan berduri (mucronatus).

  1. Susunan tulang daun (nervatio atau venation)

Tulang-tulang daun adalah bagian daun yang berfungsi untuk memberi kekuatan pada daun atau sebagai penguat dan jalan untuk pengangkutan zat-zat. Menurut besar kecilnya tulang-tulang daun dibedakan dalam tiga macam, yaitu ibu tulang daun (costa), tulang-tulang cabang (nervus lateralis), dan urat-urat daun (vena). Berdasarkan arah tulang-tulang cabang yang besar pada helaian daun, dapat dibedakan beberapa macam susunan tulang dan berdasarkan susunan tulangnya dapat dibedakan menjadi empat golongan, yaitu : daun-daun yang bertulang menyirip (penninervis), daun-daun yang bertulang menjari (palminervis), daun-daun yang bertulang melengkung (cerninervis), dan daun-daun yang bertulang sejajar atau bertulang lurus (rectinervis).

  1. Tepi daun (margo folli)

Secara garis besar tepi daun dapat dibedakan dalam dua macam, yaitu rata (integer) dan bertoreh (divisus). Toreh-toreh pada tepi daun sangat beraneka ragam sifatnya. Biasanya toreh-toreh pada tepi daun dapat dibedakan dalam dua golongan, yaitu:

  1. 1.      Tepi daun dengan toreh yang merdeka

Tepi daun dengan toreh yang merdeka banyak pula ragamnya, namun yang sering kita jumpai adalah tepi daun yang dinamakan bergerigi (serratus), bergerigi ganda atau rangkap (bisseratus), bergerigi (dentatus), beringgit (crenatus), dan berombak (repandus).

  1. 2.      Toreh daun denga toreh-toreh yang mempengaruhi bentuknya

Berdasarkan dalamnya torehan pada tepi daun dibedakan menjadi tiga macam, yaitu : berlekuk (lobatus), bercangap (fissus), dan berbagi (partitus).

  1. Daging daun (intervenium)

Daging daun (intervenium) adalah bagian daun yang terdapat di antara tulang-tulang daun dan urat-urat daun. Di bagian ini zat-zat yang diambil dari luar diubah menjadi zat-zat yang sesuai dengan keperluan kehidupan tumbuhan. Tebal tipisnya helaian daun tergantung dari tebal tipisnya daging daunnya. Oleh karena itu daging daun dapat bersifat tipis seperti selaput (membranccus), seperti kertas (papyraceus atau chartaceus), tipis lunak (herbaceous), seperti perkamen (perkamenteus), seperti kulit bertulang (coriaceus), dan berdaging (carnosus).

  1. Warna daun 

Secara umum kita ketahui bahwa daun berwarna hijau, namun tidak jarang kita jumpai daun yang warnanya tidak hijau. Selain itu warna hijau pada pada daun dapat memperlihatkan banyak variasi/nuansa, misalnya merah, hijau bercampur atau tertutup warna merah, atau hijau kekuningan.

  1. Permukaan daun

Pada umumnya warna daun pada sisi atas dan bawah jelas berbeda, biasanya sisi atas tampak lebih hijau, licin, atau mengkilat jika dibandingkan dengan sisi bawah daun. Kadang-kadang pada permukaan daun terdapat alat-alat tambahan yang berupa sisik, rambut-rambut, duri, dan lain-lain. Oleh karena itu orang membedakan permukaan daun ada yang licin (laevis), gundul (glaber), kasap (scaber), berkerut (rugosus), berbingkul-bingkul (bullatus), berbulu (pilosus), berbulu halus atau rapat (villosus), berbulu kasar (hispidus), dan bersisik (lepidus).

 IV.   HASIL PENGAMATAN

    1. A.  Tabel Hasil Pengamatan

No.

Nama tumbuhan

Bangun daun

Ujung daun

Pangkal daun

Tepi daun

Daging daun

Permukaan atas dan bawah daun

Warna daun

Atas

Bawah

1.

Daun Bambu

Pedang

Runcing

Bulat 

Bertepi rata

Seperti kertas

Kasap

Berbulu kasar

Hijau

2.

Daun Tebu

Pita

Runcing

Bulat

Bertepi rata

Seperti kertas

Licin

Berbulu kasar

Hijau

3.

Daun Pisang

Memanjang

Runcing

Tumpul

Bertepi rata

Seperti kertas

Licin

Licin berlapis lilin

Hijau

4.

Daun Jarak

Bulat

Meruncing

Membulat

Bergerigi ganda

Tipis lunak

Licin

Berkerut

Hijau

5.

Daun Widelia

Bulat telur sungsang

Runcing

Meruncing

Bergerigi

Tipis lunak

Bebulu halus dan rapat

Licin

Hijau

6.

Daun Keladi

Perisai

Runcing

Rompang

Bertepi

Tipis lunak

Licin

Licin

Hijau

7.

Daun Mangga

Memanjang

Meruncing

Runcing

Bertepi rata

Seperti kertas

Licin mengkilat

Licin mengkilat

Hijau

V.           ANALISIS DATA

1. Daun Bambu (Bambusa sp)

Berdasarkan hasil pengamatan pada daun bambu dapat diketahui bahwa daunnya mempunyai bangun daun pedang. Ujung daunnya runcing dengan pangkal daun bulat, tepi daunnya rata. Daging daunnya seperti kertas dengan pertulangan daun sejajar. Permukaan atas kasap dan bawah daunnya berbulu kasar, warna daun berwarna hijau .

Klasifikasi         : menurut (Cronquist, 1981)

Kingdom            : Plantae

Divisio               : Magnoliophyta

Classis                : Liliopsida

Subclassis           : Commelinidae

Ordo                  : Cyperales

Familia               : Poaceae

Genus                 : Bambusa

Spesies               : Bambusa sp

2. Daun Tebu (Saccharum officinarum L.)

Berdasarkan hasil pengamatan, daun tebu mempunyai bangun daun pita, ujung daunnya runcing dan pangkal daunnya bulat. Upih daun pada tebu selain melekat atau memeluk batang juga mempunyai fungsi yang lain yaitu sebagai pelindung kuncup yang masih muda. Tepi daun rata dengan pertulangan daun sejajar, daging daunnya seperti kertas. Permukaan atas  licin dan bawah daun berbulu kasar. Warna daun hijau.

Klasifikasi         : menurut (Cronquist, 1981)

         Kingdom            : Plantae

Divisio               : Magnoliophyta

Classis                : Liliopsida

Sub classis          : Commelinidae

Ordo                  : Cyperales

Familia               : Poaceae

Genus                 : Saccharum

Spesies               : Saccharum officinarum L.

3. Daun Pisang (Musa paradisiacal L.)

Berdasarkan hasil pengamatan daun pisang bangun daunnya memanjang, ujung daunnya runcing dan pangkal daunnya tumpul. Pangkal daun langsung berhubungan dengan pelepah daun yang berlapis-lapis sehingga membentuk batang semu. Sementara daunnya rata dengan pertulangan daun yang menyirip. Pada tanaman pisang ini hanya mempunyai beberapa helai daun saja. Daging daunnya seperti kertas. Permukaan atas licin dan bawah daunnya licin berlapis lilin. Warna permukaan daun hijau. Upih daun pada pisang selain melekat atau memeluk batang juga mempunyai fungsi lain yaitu memberi kekuatan pada batang tanaman, dalam hal ini upih daunnya membungkus batang, sehingga batang tidak tampak, bahkan yang tampak sebagai batang dari luar adalah upih-upihnya tadi. Adapun yang tampak pada pohon pisang ini sebenarnya bukan batang tanaman yang sesungguhnya melainkan adalah batang semu.

Klasifikasi         : menurut (Cronquist, 1981)

Divisio               : Magnoliophyta

Classis                : Liliopsida

Sub classis          : Zingiberidae

Ordo                  : Zingiberales

Familia               : Musaceae

Genus                 : Musa

Spesies               : Musa paradisiaca L.

6.  Daun Jarak (Riccinus communis L.)

Dari hasil pengamatan daun jarak memiliki bangun bulat, dengan tangkai daun yang berada di tengah-tengah helaian daun. Ujung daunnya meruncing dan pangkal daunnya membulat, tepi daunnya begerigi ganda. Daging daunnya tipis lunak dengan pertulangan daun yang menjari karena terlihat dari ujung tangkai daun terlihat keluar beberapa tulang yang memancar, yang memperlihatkan susunan seperti jari-jari pada tangan. Jumlah tulangnya gasal yang di tengah yang paling besar dan paling ujung, sedangkan kesampingnya semakin pendek. Permukaan daun atas licin dan bawah berkerut. Warna daun hijau kemerahan, pada pertulangan daun tampak merah muda dan tangkai daunnya berwarna ungu. Hal ini bukan karena tidak terdapatnya klorofil pada daun, tetapi klorofil atau zat hijau daun tertutup oleh warna lain yang lebih dominan.

Klasifikasi         : menurut (Cronquist, 1981)

Kingdom            : Plantae

Divisio               : Magnoliophyta

Classis                : Magnoliopsida

Sub classis          : Rosidae

Ordo                  : Euphorbiales

Familia               : Euphorbiaceae

Genus                 : Ricinus

Spesies               : Richinus communis L.

 7.   Daun Widelia (Widelia sp)

Dari hasil pengamatan daun Widelia mempunyai bangun bulat telur sungsang. Ujung daunnya runcing dan pangkal daunnya meruncing. Tepi daunnya bergerigi dengan permukaan atas berbulu halus dan rapat dan bawah daun licin, warna daun hijau. Daging daunnya tipis lunak.

Klasifikasi         : menurut (Cronquist, 1981)

Kingdom            : Plantae

Divisio               : Magnoliophyta

Classis                : Magnoliopsida

Subclassis           : Asteridae

Ordo                  : Asterirales

Familia               : Asteraceae

Genus                 : Widelia

Species               : Widelia sp.

 

8. Daun Mangga (Mangifera indica L.)

Dari hasil pengamatan pada daun mangga, susunan daunnya tidak lengkap karena hanya terdiri atas tangkai dan helaian saja oleh karenanya maka disebut daun bertangkai.

Daun mangga mempunyai bungun daun yang memanjang, ujung daunnya meruncing dan pangkal daunnya runcing. Daging daunnya seperti kertas dengan pertulangan daun menyirip. Pada daun ini mempunyai satu ibu tulang daun yang berjalan dari pangkal ke ujung, dan merupakan terusan tangkai daun. Permukan daun bagian atas dan bawah licin mengkilat, tepi daunnya rata. Bagian daun berwarna hijau.

Klasifikasi         : menurut (Cronquist, 1981)

Kingdom            : Plantae

Divisio               : Magnoliophyta

Classis                : Magnopsida

Subclassis           : Rosidae

Ordo                  : Sapindales

Familia               : Arnacardiaceae

Genus                 : Mangifera

Species               : Mangifera indica L.

 

9.  Daun Keladi (Colacasia sp)

Dari hasil pengamatan diketahui bahwa daun keladi mempunyai bangun daun berupa perisai, dengan tangkai daun berada di bawah tengah-tengah helaian daun. Ujung daunnya runcing dan pangkal daunnya rompang. Tepi daun rata dengan daging daun tipis lunak. Permukaan daun bagian atas dan bawah licin, serta warna daun hijau, hal ini karena zat hijau daun atau klorofil lebih banyak terdapat pada bagian atas permukaan daun.

Klasifikasi         : menurut (Cronquist, 1981)

Kingdom            : Plantae

Divisio               : Magnoliophyta

Classis                : Liliopsida

Subclassis           : Arecidae

Ordo                  : Arales

Familia               : Areceae

Genus                 : Colocasia

Spesies               : Colocasia sp.

 VI.           KESIMPULAN

  1. Daun bambu : bangun pedang, ujung runcing, pangkal bulat, daging daun seperti kertas, pertulangan sejajar, permukaan atas kasap dan bawah berbulu kasar dengan warna daun hijau.
  2. Daun tebu ; bangun pita, ujung runcing, pangkal bulat, tepi rata, daging daun seperti kertas, pertulangan sejajar, permukaan atas licin dan bawah berbulu  kasar dengan warna daun hijau.
  3. Daun pisang : bangun memanjang, ujung runcing, pangkal tumpul, tepi rata, daging seperti  kertas, pertulangan sejajar, permukaan atas licin dan bawah licin berlapis lilin, dengan warna daun hijau.
  4. Daun jarak : bangun daun bulat, ujung meruncing, pangkal membulat, tepi bergerigi ganda, daging daun tipis lunak,  permukaan  atas licin dan bawah berkerut, dengan warna daun  hijau keunguan.
  5. Daun widelia : bangun bulat telur sungsang, ujung runcing, pangkal meruncing, tepi bergerigi, daging daun tipis lunak, pertulangan menyirip, permukaan atas berbulu halus dan rapat dan bawah licin, dengan warna daun hijau.
  6. Daun mangga : bangun memanjang, ujung meruncing, pangkal runcing, tepi daun rata, daging daun seperti kertas, permukaan atas dan bawah daun licin mengkilat, pertulangan menyirip, dengan warna daun hijau.
  7. Daun keladi : bangun perisai, ujung runcing, pangkal rompang, tepi rata, daging daun tipis lunak, pertulangan menyirip, permukaan atas dan bawah daun licin, dengan warna daun hijaU

VII.     DAFTAR PUSTAKA

Sri Amintarti. 2013. Penuntun Praktikum Morfologi Tumbuhan. PMIPA FKIP UNLAM. Banjarmasin.

Cronquist, A. 1981. An Integrated System of Flowering Plants. Columbia University: New York.

Tjitrosoepomo, Gembong. 2003. Morfologi Tumbuhan. UGM Press. Yogyakarta.

DAUN TUNGGAL DAN BAGIAN-BAGIANNYA

PRAKTIKUM V . BUNGA TUNGGAL

PRAKTIKUM V

 Topik               :   Bunga Tunggal

Tujuan             :   Mengenal bunga tunggal serta bagian-bagiannya.

Hari /tanggal   :   Kamis/ 21 Maret 2013

Tempat            :   Laboratorium Biologi PMIPA FKIP UNLAM Banjarmasin

 

I.      ALAT DAN BAHAN

Alat :

  1. Baki/nampan
  2. Alat tulis
  3. Silet/cutter

Bahan :

  1. Bunga Kaca piring (Gardenia augusta Merr.)
  2. Bunga Kembang Sepatu (Hibiscus rosa-sinensis L.)
  3. Bunga Mawar (Rosa sp)
  4. Bunga Pepaya (Carica papaya L.)
  5. Bunga Waru

 

II.        CARA KERJA

  1. Menyiapkan alat dan bahan
  2. Mengamati dan menentukan bagian-bagian bunga: tangkai bunga (pedicellus), kelopak (calyx), mahkota (corolla), tenda bunga (perigonium), putik (stigma), benang sari (stamen), pendukung putik dan benang sari (andriginofor), bakal buah (karpelum), daun pemikat (lokblad).
    1. Menggambar hasil pengamatan.

 

III. TEORI DASAR

            Alat perkembangbiakan pada tumbuhan dibedakan dalam dua golongan, yaitu yang bersifat vegetatif dan yang generatif. Alat perkembangbiakan generatif tersebut bentuk dan susunanya berbeda-beda menurut jenisnya tumbuh, tetapi bagi tumbuhan yang berbiji, alat tersebut lazimnya merupakan bagian tumbuhan yang kita kenal sebagai bunga. Pada bunga ini terdapat bagian-bagian yang setelah terjadi peristiwa persarian (penyerbukan) dan pembuhan akan menghasilkan bagian tumbuhan yang disebut buah, yang di dalamnya terkandung biji dan biji inilah yang mnanti akan tumbuh menjadi tumbuhan baru.

Tumbuhan yang hanya mempunyai satu bunga saja dinamakan tumbuhan berbunga tunggal (Planta unifloral) sedangkan lainnya tumbuh an berbunga banyak (planta multifloral). Bunga pada umumnya mempunyai bagian-bagian yang terdiri dari:

  1. Tangkai bunga (pedicellus)
  2. Dasar bunga (receptaculum)
  3. Hiasan bunga (perianthium)
  4. Alat-alat kelamin jantan (androecium)
  5. Alat-alat kelamin betina (gynaecium)

Bagian-bagian hiasan bunga pada umumnya tersusun dalam dua lingkaran, yaitu:

  1. Kelopak (kalyx)
  2. Tajuk bunga atau mahkota bunga (corolla)

Pada suatu tabung sering kita dapati tidak ada hiasan bunganya. Bunga yang demikian dinamakan bunga telanjang (flos nudus), atau hiasan bunga tidak dapat dibedakan dalam kelopak dan mahkkotanya, dengan kata lain kelopak dan mhkota bunga sama, baik bentuk dan warnanya. Hiasan bunga yang demikian dinamakan tenda bunga (perigonium).

      Berdasarkan bagian-bagian yang terdapat pada bunga kecuali tangkai dan dasar bunga, maka bunga dapat dibedakan dalam:

1.   Bunga lengkap atau bunga sempurna (flos completus)

2.   Bunga tidak lengkap atau bunga tidak sempurna (flos in-completus

IV.   ANALISIS DATA

1.   Bunga Kembang Sepatu (Hibiscus rosa-sinensis L.)

Klasifikasi             : 

Divisio                   : Magnoliophyta

Classis                   : Magnoliopsida

Subclassis              : Dillenidae

Ordo                      : Malvales

Familia                  : Malvaceae

Genus                    : Hibiscus

Species                  : Hibiscus rosa-sinensis L.

Sumber                  : (Cronquist, 1981)

 Bunga ini termasuk bunga tunggal karena dalam satu tangkai hanya terdapat satu bunga. Bunga tumbuh pada ketiak daun dan menggantung, memiliki ukuran cukup besar. Pada bagian luar lingkaran kelopak bunganya masih mempunyai daun-daun yang menyerupai kelopak yang disebut kelopak tambahan. Daun mahkota berbentuk bulat telur terbalik yang berjumlah lima berwarna merah sedangkan pada pangkal mahkotanya berwarna merah kehitaman. Mahkota bebas satu sama lain tetapi pada pangkal seringkali berlekatan dengan buluh yang merupakan perlekatan tangkai-tangkai sarinya. Putiknya berjumlah lima. Benang sarinya banyak dan terdapat pada tangkai sari.

 2.      Bunga Mawar (Rosa sp)

Klasifikasi             : 

Kingdom               : Plantae

Divisio                   : Magnoliophyta

Classis                   : Magnoliopsida

Sub classis             : Rosiidae

Ordo                      : Rosales

Familia                  : Rosaceae

Genus                    : Rosa

Spesies                  : Rosa sp

Sumber                  : (Cronquist, 1981)

Mawar adalah tumbuhan semak yang kadang-kadang memanjat, berduri dan juga merupakan tanaman berkayu. Bunga kerap kali berkelamin 2, beraturan dan berbilangan 5, Daun mahkota sebanyak taju kelopak, Kelopak berdaun lekat kadang dengan kelopak tambahan, benang sari 6 sampai banyak. Tangkai sari waktu kuncup kerap kali membengkok, Kepala sari kecil beruang 2, bakal buah satu sampai banyak, menumpang ada yang tenggelam dan ada juga yang setentah tenggelam. Bunga mawar sering dijadikan sebagai aroma terapi. Wangi dari bunga mawar banyak mengundang serangga untuk berdatangan.

3.      Bunga Kaca piring (Gardenia augusta Merr.)

      Klasifikasi             : 

Kingdom               : Plantae

Divisio                   : Magnoliophyta

Classis                   : Magnoliopsida

Sub classis             : Asteriidae

Ordo                      : Rubiales

Familia                  : Rubiaceae

Genus                    : Gardenia

Spesies                  : Gardenia augusta Merr.

Sumber                  : (Cronquist, 1981)

Bunga kaca piring berwarna putih, tunggal, bertangkai pendek dan berbau harum, bentuk bunga mirip seperti bunga mawar. Mahkota bentuk terompet, tabung bulat, kehijauan, leher berambut, pinggiran mahkota 6-9 cm, putih cerah, keenam taju yang paling luar oval bulat telur terbalik, yang lain makin kedalam makin pendek. Di gunakan sebagai tanaman hias dipekarangan rumah karena bunganya bagus dan berbau harum.

 4.      Bunga Pepaya (Carica papaya L.)

Klasifikasi             :

Kingdom               : Plantae

Divisio                   : Magnoliophyta

Classis                   : Magnolipsida

Sub classis             : Dilleniidae

Ordo                      : Violales

Familia                  : Caricaceae

Genus                    : Carica

Species                  : Carica papaya L.

Sumber                  : (Cronquist, 1981)

Pada pohon pepaya bisa ditemukan bunga jantan, betina dan bunga banci. Bunga banci yaitu bunga yang mempunyai benang sari (alat kelamin jantan) dan putik (alat kelamin betina). Bunga betina umumnya berdiri sendiri, berwarna putih kekuningan. Bakal buah beruang 1 dengan 5 kepala putik. Bunga hampir selalu berkelamin satu dan berumah dua, tetapi kebanyakan dengan beberapa bunga berkelamin 2 pada karangan bunga yang jantan. Bunga jantan pada tandan yang serupa malai dan bertangkai panjang, kelopak sangat kecil, mahkota berupa terompet, putih kekuningan, dengan tepi yang bertaju 5 dan tabung yang panjang, langsing, taju terputar dalam kuncup; kepala sari bertangkai pendek dan duduk. Bunga betina kebanyakan berdiri sendiri; daun mahkota lepas atau hampir lepas, putih kekuningan (Steenis, 2006, 301-301).

 5.      Bunga Waru

Klasifikasi             :

Divisio                   : Magnoliophyta

Classis                   : Magnoliopsida

Subclassis              : Dilleniidae

Crdo                      : Malvales

Familia                  : Malvaceae

Genus                    : Hibiscus

Species                  : Hibiscus tiliaceus

      Sumber                  : (Cronquist, 1981)

Dari hasil pengamatan diketahui bahwa bunga waru ini hampir sama dengan kembang sepatu, tetapi yang membedakan adalah warnanya. Pada bunga waru berwarna kuning sedangkan bunga kembang sepatu warnanya merah. Bagian-bagian bunga waru adalah tangkai bunga (Pedicellus), dasar bunga (receptaculum), kelopak bunga (calyx), mahkota bunga (corolla), benang sari (stamen), dan putik (pistillum).

 V.  KESIMPULAN

  1. Bunga tunggal (planta unifloral) yaitu apabila dalam satu tangkai bunga hanya terdapat satu bunga saja dan biasanya terdapat di ujung batang.
  2. Berdasarkan letaknya, bunga tunggal dapat dibedakan menjadi dua  macam, yaitu: Bunga tunggal yang terletak di ketiak daun dan bunga tunggal yang terletak di ujung daun. Bagian-bagian pada bunga tunggal umumnya terdiri atas: tangkai bunga (pedicellus), kelopak bunga (calyx), mahkota bunga (corolla), tenda bunga (perigonium), putik (pistillum), benang sari (stamen), pendukung putik dan benang sari, bakal bual (ovarium), daun buah (karpelum) serta daun pemikat
  3. Bunga Kaca piring (Gardenia augusta Merr.) merupakan bunga tunggal yang memiliki tangkai bunga (pedicellus) dan kelopak bunga (calyx) yang kecil dan pendek, mahkota bunga (corolla) yang berjumlah banyak dan berwarna putih. Bunga ini termasuk ke dalam bunga banci atau berkelamin 2 (hermaphroditus) yang mana dalam satu bunga terdapat alat kelamin jantan dan alat kelamin betina, yaitu benang sari dan putik.
  4. Bunga Kembang Sepatu (Hibiscus rosa-sinensis L.) merupakan bunga yang bagian-bagiannya lengkap terdiri dari tangkai bunga (pedicellus), kelopak (calyx), kelopak tambahan, mahkota berwarna merah (corolla), benang sari dan putik.
  5. Bunga Mawar (Rosa sp) merupakan bunga tunggal yang memiliki tangkai bunga (pedicellus), mahkota bunga (corolla) berjumlah banyak yang berwarna merah cerah. Bunga ini termasuk ke dalam bunga banci atau berkelamin 2 (hermaphroditus) yang mana dalam satu bunga terdapat alat kelamin jantan dan alat kelamin betina, yaitu benang sari dan putik.

 VI.     DAFTAR PUSTAKA

Amintarti Sri. 2013. Penuntun Praktikum Morfologi Tumbuhan. Banjarmasin: MIPA FKIP UNLAM.

Cronquist, A. 1981. An Integrated System of Classification of flowering Plants. Columbia University Press. New York.

Steenis, Van. G. G. J. 2002. Flora. Jakarta : Pradya Paramita.                       

Tjitrosoepomo, Gembong. 2003. Morfologi Tumbuhan.Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

http://budiboga.blogspot.com/2006/05/bunga-mawar-si-bungaromantis.html Di akses Sabtu/23 Maret 2013

http://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:White_Gardenia_flower.jpg Diakse Sabtu/23 Maret 2013

http://www.nybg.org/bsci/belize/Hibiscus_rosa-sinensis.jpg Diakses Sabtu/23 Maret 2013

http://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:White_Gardenia_flower.jpg Diakse Sabtu/23 Maret 2013

http://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:White_Gardenia_flower.jpg Diakse Sabtu/23 Maret 2013

BAB I PENDAHULUAN

BAB I

PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang

Provinsi Kalimantan Tengah khususnya daerah Kabupaten Kapuas merupakan salah satu kabupaten yang secara geografis terletak diantara 00 8’ 48’’ –  30 27’ 00’’ LS dan 1130 2’ 36’’ – 1140 44’ 00’’ BT yang meliputi luas wilayah 14.999 km2. Ibukota kabupaten ini terletak di Kuala Kapuas. Kuala Kapuas adalah kota yang indah, karena berada pada tepi sungai pada simpang tiga. Ketiga sungai tersebut adalah Sungai Kapuas Murung dengan panjang 66,38 km, Sungai Kapuas dengan panjang 600 km dan Daerah Pantai/ Pesisir Laut Jawa dengan panjang 189,85 km. Aliran sungai ini banyak melewati daerah pemukiman penduduk yang berada di pinggiran sungai salah satunya adalah Kelurahan Selat Tengah. Salah satu bentuk pulau di Kalimantan Tengah terdapat di Desa Pulau Telo. Berdasarkan hasil survey dan informasi dari masyarakat desa ini dinamakan Pulau Telo karena ada tiga pulau yang terletak di tengah Sungai Kapuas yang ada di depan desa ini, dimana Pulau Telo yang berukuran besar tersebut memiliki panjang sekitar 1613,74 m dan lebar sekitar 596,42 m, yang berukuran sedang memiliki panjang sekitar 291,24 m dan lebar sekitar 290,59 mdan pulau yang kecil memiliki panjang sekitar 230,76 m dan lebar sekitar 231,80 m. Sungai yang terdapat di Desa Pulau Telo memiliki panjang sungai + 10 km dengan lebar + 1200 m (Pemda Kab. Kapuas, 2013).

Menurut Mudjiman (1992), kelas Crustaceae terbagi menjadi dua sub kelas, yaitu subkelas Entomastraca (udang-udangan tingkat rendah) dan subkelas Malacostraca. Subkelas Malacostraca terbagi menjadi 7 ordo, yaitu Mysidaecea, ordo Cumacea, ordo Euphausiacea, ordo Amphipoda, ordo Isopoda, ordo Stomotopoda dan ordo Decapoda. Ordo Decapoda terbagi lagi menjadi 2 subordo, yaitu subordo natantia dan subordo Reptantia. Sub ordo Natantia terbagi menjadi 3 family, yaitu family Penaedae, family Palaemonidae dan family Atyidae. Family Atyidae terbagi satu genus, yaitu genus Caridina dan family Palaemonidae terbagi menjadi 2 genus, yaitu genus Macrobrachium dan genus Palaemon.

Udang adalah termasuk dalam phylum invertebrata kelas crustaceae, ordo decapoda. Habitat udang ada dua tempat yaitu pada air tawar dan air laut. Udang yang hidup di air tawar, misalnya Macrobrachium sp dan udang yang hidup di air luat, misalnya Penaeus sp (Darmono, 1995). Macam-macam udang air tawar menurut Mudjiman (1992) ada 9 spesies, yaitu udang Galah (Macrobrachium rosenbergii), udang Beras (Caridina gracilirostris), Alama (Caridina nilotica), udang Lar (Macrobrachium lar), udang Muara (Macrobrachium equidens), udang Palaemon bening ( Palaemon concinnus), udang Ragang (Macrobrachium sintangense), udang Biang (Palaemon sp), dan udang Buku (Palaemonetes sp).